RAPHAEL GEBRAFELS WÜTRICH
━━━━━━
13 Agustus 2000
Raphael Gebrafels Wuthrich lahir di Swiss dari keluarga yang berakar kuat dalam budaya Swiss, namun ibunya adalah keturunan China yang membawa nuansa budaya oriental ke dalam kehidupan Raphael. Sejak kecil, Raphael tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan cinta dan kasih sayang, di mana kedua orangtuanya selalu menekankan pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain.Meskipun dikelilingi oleh kemewahan dari kedua budaya yang ada dalam keluarganya, Raphael tetaplah seorang yang rendah hati dan tidak pernah melupakan nilainya. Dia selalu merasa terhubung dengan sesama dan senang membantu orang lain tanpa pamrih. Karena pengalaman hidupnya yang beragam, Raphael memiliki pemahaman yang mendalam tentang keragaman budaya dan nilai-nilai universal tentang persaudaraan dan kerjasama.Meskipun memiliki kesempatan untuk hidup mewah, Raphael lebih memilih untuk menggunakan kekayaan dan keberuntungannya untuk membantu orang lain, terutama yang kurang beruntung. Keberadaannya selalu memberikan inspirasi bagi orang lain untuk juga bersikap ramah dan peduli terhadap sesama. Dengan sikap hangat, penuh kasih sayang, dan rendah hati, Raphael Gebrafels Wuthrich adalah sosok yang memberikan warna dalam kehidupan orang-orang di sekitarnya.
ELIOS FREDERICK WÜTRICH
━━━━━━
12 Juli 1998
Elios Frederick Wutrich, atau biasa dipanggil Elios, merupakan seorang pemuda blasteran Swiss-Sunda. Marga 'Wutrich' diwariskan dari sang ayah. Perbedaan latar belakang dan budaya dari kedua orang tuanya lantas membuat Elios sudah terbiasa dengan perbedaan.Sejak kecil, Elios dikenal sebagai anak yang cerdas namun sering kali memberontak dan sulit diatur. Orang tuanya kesulitan mengendalikan perilaku nakal Elios di sekolah, hingga sang Ibu tanpa sadar berceletuk: "pék wéh diasupkeun ka pasantrén engké mah."Celetukan asal itu ternyata membuat rasa penasaran Elios muncul. Berawal dari mencari arti pesantren, pemuda itu mulai tertarik dengan Islam dan memutuskan menjadi mualaf di usianya ke 20 tahun.Sejak saat itu, Elios tidak lagi dikenal sebagai anak nakal. Ia membentuk komunitas remaja mesjid di Swiss dan saling berbagi serta membantu dengan sesama melalui komunitas tersebut. Meski ia merupakan satu-satunya muslim di keluarga, Elios tetap merasakan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga tanpa merasa dibedakan ataupun dikucilkan.Maka dari itu, permintaan untuk membantu mengurusi villa keluarga di Swiss ia sanggupi sepenuh hati.
GEISHA ELEANOR WÜTRICH
━━━━━━
21 Juli 1997
Geisha Eleanor Wuthrich, seperti saudara laki-lakinya Siegbert, lahir di Zurich dari keluarga multikultural. Ayah mereka, keturunan Jerman-Swiss dan Tionghoa, dan ibu mereka yang murni orang Jepang bertemu selama tahun-tahun kuliah mereka di Jerman. Setelah romansa kilat selama satu tahun, mereka menikah dan kembali ke Swiss, di mana mereka membuka sebuah penginapan sederhana di Zurich.Tumbuh dalam keluarga yang suportif dan penuh kasih sayang, Geisha dan Siegbert selalu didorong untuk mengejar impian mereka. Geisha dikenal karena kelembutan dan kekuatannya yang tenang, seperti bunga-bunga yang sangat ia kagumi. Sejak usia muda, ia membantu orang tuanya menjalankan penginapan, tetapi hasrat sejatinya terletak pada bunga-bunga berwarna-warni yang ia rangkai untuk mempercantik kamar tamu dan area umum.Geisha bermimpi suatu hari akan membuka toko bunga miliknya sendiri di kampung halaman mereka, sebuah impian yang semakin kuat dengan setiap rangkaian bunga yang ia buat. Meskipun kehidupannya yang tenang di pedesaan Swiss, di mana ia menikmati kesederhanaan dan ketenangan, Geisha menyimpan identitas ganda. Ketika mengunjungi Jepang, ia dengan mudah berubah menjadi seorang wanita muda yang modis dan dinamis, menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang penuh semangat dan cepat di sana.Perjalanannya ditandai oleh cintanya pada perbukitan Swiss yang tenang dan jalanan Jepang yang ramai, mewujudkan keseimbangan antara dua dunia yang kontras.Masa depan Geisha begitu cerah dan menjanjikan seperti bunga-bunga yang ia kagumi, dengan toko bunganya berdiri sebagai bukti dedikasinya dan kesederhanaan indah dari mimpinya.
SERAPHINA GIENEBELLE WÜTRICH
━━━━━━
July 12, 1995
She is 𝐒𝐞𝐫𝐚𝐩𝐡𝐢𝐧𝐚 𝐆𝐢𝐞𝐧𝐞𝐛𝐞𝐥𝐥𝐞 𝐖𝐮̈𝐭𝐫𝐢𝐜𝐡. Semua, termasuk kamu si pembaca, dapat memanggilnya 'Sera'. Terkadang, jika diperlukan, sang dara juga dikenal sebagai 𝑺𝒆𝒓𝒂𝒑𝒉𝒊𝒏𝒂 𝑪𝒉𝒐𝒖 atau Zhōu Jiā Qí (周佳琦).Lahir di Geneva, 22 Juli 1995, si puan berdarah Swiss-Cina ini merupakan cucu pertama sekaligus anak pertama dari pasangan pebisnis tekstil asal Swiss, Gabriel Leonidè Wütrich, dan seniman instalasi asal Cina, Zhōu Jiā' Ài (周佳爱). Beliau merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dan hidup berkeluarga di Jerman bersama adik laki-lakinya Raphael Gebrafels Wütrich yang kini tinggal jauh darinya. Dengan segala keberuntungan, Seraphina dibesarkan dengan banyak kasih sayang, perhatian, juga keadaan finansial yang jauh lebih dari stabil, membuat dirinya banyak tersenyum dan berbahagia sejak kecil.Sebagaimana kedua orangtuanya yang dipertemukan Tuhan lewat galeri seni, Seraphina dan galeri seni ibunya telah menjadi sahabat terbaik sejak umurnya masih berkisar lima tahun— membuat puannya jatuh hati terhadap seni sedari usia diri. Tanpa sadar, pengaruh orangtua membuat dirinya tumbuh menjadi seorang yang kritis dan kreatif dalam proses pembuatan seni, which currently makes her a 𝒇𝒂𝒔𝒉𝒊𝒐𝒏 𝒄𝒓𝒊𝒕𝒊𝒒𝒖𝒆. Mengikuti okupasinya sebagai jurnalis utama majalah, saat ini Seraphina tinggal dan bekerja di tanah Perancis untuk bekerja di bawah naungan majalah mode ternama asal Amerika Serikat. 𝐴𝑛𝑑 𝑦𝑒𝑠, 𝐴𝑛𝑛𝑎 𝑊𝑖𝑛𝑡𝑜𝑢𝑟'𝑠 ℎ𝑒𝑟 𝑟𝑜𝑙𝑒 𝑚𝑜𝑑𝑒𝑙.𝑊𝑒𝑙𝑙, 𝑦𝑜𝑢 𝑚𝑖𝑔ℎ𝑡 𝑟𝑒𝑐𝑜𝑔𝑛𝑖𝑧𝑒 ℎ𝑒𝑟 𝑎𝑠 𝑠𝑜𝑚𝑒𝑜𝑛𝑒 𝑤𝑖𝑡ℎ 𝑔𝑜𝑜𝑑 𝑓𝑜𝑟𝑡𝑢𝑛𝑒 𝑏𝑦 𝑛𝑜𝑤, namun takdir anak perempuan pertama tidak pernah lepas dari kodrat seharusnya. Dengan bisnis ayahnya yang mengalami penurunan pesat semenjak pandemi berlangsung, rumah tangga orangtuanya mengalami penurunan dan konflik yang sama beratnya (Raphael yang sedang merantau sama sekali tidak mengetahui hal ini, Seraphina menjadi satu-satunya saksi debat kedua orangtuanya). Keadaan itu diperparah pula dengan fakta bahwa kedua orangtuanya hampir memasuki masa pensiun. Tentu, Seraphina ditunjuk langsung untuk terjun sedikit demi sedikit ke dunia tekstil beberapa tahun belakangan ini seraya melakukan tugasnya sebagai seorang jurnalis mode demi mempersiapkan dirinya sebagai penerus bisnis tekstil ayahnya. Saat ini, Sera merasa bahwa ia merupakan kunci terbesar dalam menghidupi dan membangkitkan bisnis keluarganya (dan keluarganya) kembali, menjadikan itu sebuah misi baginya dalam lima tahun ke depan.Naasnya, bebannya tak pernah berbohong. Beberapa tahun belakangan ini, terlalu banyak senyum yang hilang dari hidupnya. Memang, sih, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara pergi ke rumah kakek-nenek, namun itu yang kini seringkali dilakukannya: pergi ke Swiss setiap akhir pekan, bahkan tak jarang pula melakukan pekerjaan kantornya di hadapan Swiss Alps.Intinya, saat ini, hanya rumah kedua kakek neneknya yang membuat kesehatan mentalnya terjaga. Maka dari itu, membuat keduanya bahagia merupakan tujuan utama si puan tertua tersebut— and make sure she is not a burden to them. Untuk keluar dari segala hiruk pikuk keluarga nuklirnya, hanya kedua kakek neneknya yang masih sanggup mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Jadi, Seraphina harap, keduanya dapat terus berbahagia, selagi dirinya mencari cara untuk mendamaikan kembali keluarga kecilnya. 𝑫𝒐𝒂'𝒌𝒂𝒏, 𝒚𝒂?
SIEGBERT HEITER WÜTRICH
━━━━━━
16 Juli 1999
Siegbert Heiter Wuthrich lahir Zurich. Ayahnya merupakan campuran orang German-Swiss dan China tapi merupakan warga negara di Swiss. Dan ibunya merupakan orang Jepang murni. Ayah dan Ibu Siegbert bertemu di universitas di German. Dalam kurun waktu hanya 1 tahun bertemu mereka memutuskan untuk menikah. Lalu setelah setelah mereka lulus dan pulang ke swiss dan membuka penginapan sederhana di Zurich.Mereka tumbuh di keluarga yang suportif dan penuh kasih sayang. Siegbert pun dari kecil juga sudah membantu orang tuanya untuk menjalankan penginapan. Siegbert dikenal sebagai pribadi yang murah senyum dan cheerful. Namun diam-diam dia juga sangat observan. Dia merupakan pribadi yang introvert tapi dipaksa menjadi extrovert untuk melayani pengunjung penginapan. Dari kecil hobinya adalah membuat kue dan roti apalagi sour bread. Siegbert juga menjualnya kepada pelanggan dan terkadang memberikan extra kue kepada pelanggannya yang sudah membeli. Siegbert mengambil kuliah hospitality di Swiss. Cita-citanya adalah membuka toko roti yang nantinya memiliki banyak cabang
















